Thursday, April 16, 2009

MELAYU

banyak yang bilang bahwa kita harus menjaga budaya melayu.
banyak yang setuju
banyak yang tidak setuju
karena melayu hanya sebatas:
  • bahasa
  • pakaian seragam
  • pernikahan
karena melayu bukan merupakan:
  • tindak tanduk
  • prilaku
  • pola pikir
  • keseharian
terserah encik, puan dan tuan untuk memilihnya

Thursday, May 22, 2008

be_BE_eM

100 tahun kebangkitan bangsa ini diiringi dengan naiknya harga bahan bakar minyak. akanlah menghasilkan dampak yang panjang terhadap kebangkitan itu sendiri. apakah kebangkitan tersebut hanya berupa slogan saja, 'indonesia bisa'. ada baiknya slogan kebangkitan tersebut ditukar menjadi 'bisa (kah) indonesia'? untuk mengiringi kenaikan harga bahan bakar minyak tersebut.

jadi apa arti kebangkitan 100 tahun negeri ini?

"adalah sebuah kelelahan"
"kelelahan yang membuat kecapaian"
"kecapaian yang harus diobati dengan tidur"
"tidur yang harus diiringi dengan mimpi indah"
 

Tuesday, April 15, 2008

gubernur

ketika dede yusuf melalui 'quick count' sebuah lembaga, dinyatakan unggul dari lawan-lawan politiknya untuk menjabat sebagai wakil gubernur jawa barat. maka hal tersebut dapat dijadikan preseden bagi daerah lain untuk menjadikan artis yang berasal dari daerahnya untuk menjadi calon gubernur atau calon wakil gubernur.

salahkah?

tak ada salahnya, setiap warga negara memiliki hal untuk memilih dan dipilih, jadi apapun profesinya, artiskah, mantan artiskah, atau siapa saja pokoknya berhak, titik.

nah bagaimana kalo rusli zainal digandengkan dengan iyet bustami?
suai kah....?

suai-suai aja
asalah ada partai yang mau mendukungnya.
atau
mau mencalonkan diri sendiri seperti tabrani rab, sebagai calon indy...

semoga saja pada pemilihan gubernur riau nanti, diramaikan oleh banyak pasangan, tidak hanya muka-muka lama saja, tapi diharapkan wajah baru yang bisa menjadi pemimpin negeri ini,
yang tidak hanya memberikan janji-janji
yang tidak mengerti dengan keinginan dan kemauan rakyat
yang tidak NATO
yang bisa memberikan energi positif

ah....
terlalu banyak harapan


bisakah ???

Wednesday, April 2, 2008

memborong perumahan

kemarin temanku dari fakultas teknik menawarkan untuk memberikan rumah dari sebuah perusahaan pengembang, lokasinya untuk saat ini bisa dibilang belum strategis, terletak di jalan garuda sakti dekat dengan perumhan dosen unri. tapi untuk investasi ke depan akan sangat strategis jika dilihat pengembangan dan pembangunan kota pekanbaru.

dari awal sudah tidak berminat, tapi sang kawan dengan semangatnya memberikan 'good advice' untuk investasi, kalo tak dipakai disewakan saja nanti. kalau tidak membeli dalam beberapa hari ini harga akan naik menjadi 55 juta tambahnya lagi. sang kawan mengambil dua unit berarti dia harus menyediakan uang sebesar 10 juta sebagai downpayment untuk RSS tipe 36/120. coba pikir, pak antono ting mengambil 17 unit rumah. memang bisa mengambil rumah lebih dari satu, tanya ku kepada sang kawan. tidak katanya. berarti kau sama saja dengan pak antono ting (bedanya pak antono mengambil 17 dia cuma 2 unit). untuk 2 unit tersebut sang kawan harus menggunakan ka-te-pe orang lain agar mendapatkannya. karena tidak boleh menggunakan satu ka-te-pe yang sama untuk memiliki 2 rumah sekali gus. kembali ke pak antono, berarti dia harus menggunakan 17 ke-te-pe untuk 17 unit rumah tersebut. ka-te-pe siapa aja ya?

dari sekelumit cerita diatas, sepertinya kita sudah dirasuki oleh roh yang bernama kapitalisme, semakin besar kapital yang dimiliki maka akan semakin banyak aset yang dimiliki, lupakan orang lain yang juga memerlukan, biarkan saja mereka menderita, karena ketidak mampuan dan ketidak berdayaannya untuk mendapatkan hal yang sama. jadikan kemalasan sebagai kambing hitam.

ketika malam sampai dirumah mantan pacarku bilang, emang abang mau ngambil rumah itu? katanya enteng. tak lah, jawabku. karena gaji yang pas-pasan, dan mungkin jiwa kapitalisme yang belum begitu mengakar dalam jiwa ini (semoga bukan kemunafikan yang ada). ku layangkan sepucuk pesan pendek kepada sang kawan, maaf, kami tidak jadi membeli perumahan tersebut, berkasnya ku tinggalkan di laci meja.

hujan lagi

dini hari tadi hujan kembali membasahi bumi pekanbaru, memang malamnya terasa gerah sekali dan wajar saja subuhnya hujan turun dengan derasnya, dampaknya adalah tidur bisa lebih adem :-)

tapi, ketika mau sholat shubuh, wah-wah, air sudah masuk ke rumah melalui pintu dapur, sebagian dapur sudah digenangi oleh air walaupun tidak luas permukaan yang digenanginya. ketika mencoba untuk melihat keadaan disekitar rumah, ternyata halaman rumah sudah seperti lautan, wuih...dahsyatnya.
salah satu penyebabnya adalah saluran pembuangan air perumahan kami tersumbat membuat air tak bisa mengalir dengan cepat.

namun yang lebih parah lagi adalah rumah-rumah yang berada disekitar kawasan tangkap air (water catchment area), yang selalu tergenang oleh air walaupun hujan yang turun tidak berapa lebah. mungkin mereka tidur diatas air, ;-(, bagaimana perumahan masyarakat yang berada di rumbai pesisir ya? kemarin kabarnya air sudah surut, mungkin sekarang air naik lagi.

musibah ini tak terlepas dari peranan kita sebagai manusia yang tidak lagi mau memperhatikan keseimbangan alam, kita hanya fokus dengan kepentingan sendiri-sendiri dan kita tidak menyadari bahwa alam memiliki keramahan sendiri dalam mengatasi masalahnya. tapi kita terlalu rakus dan tamak untuk meguasai alam dan akibatnya mari kita nikmati bersama.

:-(

Tuesday, March 25, 2008

jika hujan tak kunjung reda

belakangan ini, provinsi riau tak pernah lekang dari hujan.
kejap-kejap hujan....
akibatnya
- banjir
- banjir
- banjir
- banjir
- banjir

ketika bajir lagi seru-serunya
ramailah penguasaha datang untuk menunjukkan
- kepedulian
- keresahan
- keibaan
- kunjungan

yang semuanya bersifat dadakan

apakah semuanya itu benar-benar nyata
atau merupakan sebuah dagelan yang repetitif jika kejadian yang sama hadir

mengapa mereka (para penguasaha) tidak berupaya dengan sesungguhnya
menanggulangi permasalahan tersebut, sehingga repetitif yang mereka lakukan tidak lagi sekedar dagelan belaka. tapi adalah suatu keharusan yang sudah menjadi amanah.

ingat
amanah adalah janji
dan janji adalah hutang
dan hutang harus dibayar
jika tidak.....?

berarti mereka sering berhutang.

Sunday, March 23, 2008

poor idrisi

cerita berawal dari hari kamis lalu (20 maret 2007), sore hari.
awalnya idrisi cuma pilek saja,
mmmm...cuma pilek biasa... tak apalah, mungkin karena perubahan cuaca yang tak menentu saat ini. siang panas terik dan gerah, sorenya bisa hujan sampai esok pagi.
malamnya suhu badannya mulai naik, 39 derajat celsius.
panik?
tak lah kan dah baca buku "smart parents for healthy children". menunjuk petunjuk buku tersebut tak payak di bawa ke dokter, cukup berikan penurun panas. setelah diberi penurun panas, suhu tubuh mulai turun, tapi bukan berarti demamnya reda, suhu badannya mengalami fluktuasi, mungkin sesuai terjadi di dalam tubuh.

jumat dini hari suhu tubuhnya mulai naik lagi, antisipasinya hanya menjaga asupan nutrisi dari air susu ibu dan mencoba memberikan makanan pendamping air susu ibu, cairan yang terus diberikan agar dia tidak kekeringan. begitu terus sampai pagi sabtu. panas demamnya masih belum reda. di sekujur tubuhnya ruam merah sudah mulai menampakkan wujudnya. dari buku yang kami baca, ruam tersebut diakibatkan oleh HHV (human herves virus) yang dapat mengakibatkan campak, rubella atau roseolla. kebetulan pada hari sabtu tersebut DSA-nya praktik. untuk menenangkan diri, idrisi dibawa untuk meyakinkan apa yang telah dilakukan adalah benar.

sesampai di tempat praktik, masih harus menunggu 1 jam lebih, dokternya datang dengan wajah yang sumringah sambil mengumbar senyum, melihat puluhan pasien telah menunggu. tiba giliran idrisi untuk diperiksa, dia menangis sekeras2nya, rewel emang (karena menurut buku tersebut balita akan lebih rewel ketika diserang HHV). menurut diagnosa dokter idrisi terserang alergi, sang dokter bertanya apakah, ibunya pernah makan udang dan atau telur? kata yossi pernah tapi sebelum dia terserang HHV. sang dokter hanya memberikan kesimpulan idrisi terserang alergi. lalu diberikan penurun panas melalui anus dan seberkas lembaran resep yang berisikan obat2an yang harus ditebus. diantaranya chloramex (ini sirup antibiotik), lalu puyer yang terdiri dari 6 campuran obat (wow, pasti rasanya pahit tenan).

tibalah saatnya untuk menebut obat, ketika sang apoteker ditanya tentang kandungan obat untuk setiap tulisan yang tertera diresep dokter, sang apoteker berkata, "maaf pak saya tidak berani menjelaskan lebih detil, karena saya takut keterangan saya berbeda dengan keterangan dokter, kalu bapak kurang puas kembali saja ke dokternya".

sebuah dunia yang penuh ketidakjelasan.

akhirnya kami pilih untuk tidak menebus resep tersebut, karena menurut buku yang menjadi pedoman tersebut untuk penyakit yang diakibatkan oleh serangan virus belum ada obatnya, apalagi dilawan dengan menggunakan antibiotik. bisa-bisa bukan bakteri patogen yang sayang mati tapi yang berguna bagi tubuhpun bisa dipukul habis oleh antibiotik tersebut. jadi cukup saja diberikan penurun panas dan menjaga asupan nutrisi balita.

se sampai dirumah, kondisi idrisi masih sama seperti kemarin, suhu tubuh masih naik turun. ruam merah masih tetap ada. hingga esok harinya, ahad, sudah mencapai 72 jam, lalu yossi sudah mulai panik dan memberikan efek psikologis kepada orang yang ada disekitarnya. hari ahad kami berencana untuk mencari second opinion, tapi hari ahad tak adalah satu orang dokterpun yang praktik. coba menuju rumah sakit ibu dan anak eria bunda, dan minta kepada resepsionisnya untuk menelpon DSA-nya idrisi, sang dokterpun menyarankan untuk datang ke rumahnya. kami pun berangkat menuju rumah sang dokter.

sebuah rumah yang cukup bagi penghasilan seorang dokter spesialis anak.
menunggu selama 15 menit sang dokterpun muncul. dia pun kembali mendiagnosa idrisi. wah ini campak. bukan alergi.
lah kok bisa berubah diagnosa dalam waktu sehari?
kalo di periksa lagi mungkin bisa berubah lagi kah?
kami mencoba menanyakan tentang pemberian antibiotik dan dampaknya terhadap balita. pendapat sang dokter:

secara teori yang dinyatakan tadi adalah benar tapi secara klinik itu tidak berlaku, karena penyakit yang menyerang tidak hanya satu saja tapi juga ada penyerang lainnya, apalagi di indonesia, dimana daya tahan tubuh lemah, kurang asupan gizi dan lain-lain. kemudian ditambahkan lagi, kalo ibuk tidak mau menggunakan antibiotik dan resep yang diberikan, terserah.

mendengar penjelasan seperti ini, merupakan sebuah argumen yang sangat lemah, pertama sang dokter plin-plan dengan diagnosanya sendiri (walaupun menurutnya obatnya masih sama), kemudian dia tak bisa mempertahankan pendapatnya bahwa kami harus memberikan antibiotik kepada idrisi. kedua jika memang demikian menurut dokter, mengapa tidak sekalian aja diberikan obat HIV, EBOLA, FLU BURUNG biar sekalian diantisipasi.

setelah pulang dari rumah sang dokter dengan penuh kebimbangan, akhirnya kami menebus juga puyer yang dituliskan pada resep ulangan yang diberikannya. sore kemarin suhu bandan idrisi sudah mulai menurun, alhamdulillah.......
hingga pagi tadi dia sudah bisa bermain, walau masih agak lemas.
sayang belum bisa membuktikan bahwa idrisi bisa sembuh tanpa harus meminum puyer dan antibiotik yang membuat anak-anak pusing untuk meminumnya.

adakah perlakuan dokter yang lebih rasional dalam pemberian obat untuk pasiennya?
dimanakah tanggung jawab moral seorang dokter jika pasien yang diberikannya obat belum sembuh-sembuh juga?
ataukah kita harus berpegang pada sebuah bait lagu
"Dokter juga manusia?