cerita berawal dari hari kamis lalu (20 maret 2007), sore hari.
awalnya idrisi cuma pilek saja,
mmmm...cuma pilek biasa... tak apalah, mungkin karena perubahan cuaca yang tak menentu saat ini. siang panas terik dan gerah, sorenya bisa hujan sampai esok pagi.
malamnya suhu badannya mulai naik, 39 derajat celsius.
panik?
tak lah kan dah baca buku "smart parents for healthy children". menunjuk petunjuk buku tersebut tak payak di bawa ke dokter, cukup berikan penurun panas. setelah diberi penurun panas, suhu tubuh mulai turun, tapi bukan berarti demamnya reda, suhu badannya mengalami fluktuasi, mungkin sesuai terjadi di dalam tubuh.
jumat dini hari suhu tubuhnya mulai naik lagi, antisipasinya hanya menjaga asupan nutrisi dari air susu ibu dan mencoba memberikan makanan pendamping air susu ibu, cairan yang terus diberikan agar dia tidak kekeringan. begitu terus sampai pagi sabtu. panas demamnya masih belum reda. di sekujur tubuhnya ruam merah sudah mulai menampakkan wujudnya. dari buku yang kami baca, ruam tersebut diakibatkan oleh HHV (human herves virus) yang dapat mengakibatkan campak, rubella atau roseolla. kebetulan pada hari sabtu tersebut DSA-nya praktik. untuk menenangkan diri, idrisi dibawa untuk meyakinkan apa yang telah dilakukan adalah benar.
sesampai di tempat praktik, masih harus menunggu 1 jam lebih, dokternya datang dengan wajah yang sumringah sambil mengumbar senyum, melihat puluhan pasien telah menunggu. tiba giliran idrisi untuk diperiksa, dia menangis sekeras2nya, rewel emang (karena menurut buku tersebut balita akan lebih rewel ketika diserang HHV). menurut diagnosa dokter idrisi terserang alergi, sang dokter bertanya apakah, ibunya pernah makan udang dan atau telur? kata yossi pernah tapi sebelum dia terserang HHV. sang dokter hanya memberikan kesimpulan idrisi terserang alergi. lalu diberikan penurun panas melalui anus dan seberkas lembaran resep yang berisikan obat2an yang harus ditebus. diantaranya chloramex (ini sirup antibiotik), lalu puyer yang terdiri dari 6 campuran obat (wow, pasti rasanya pahit tenan).
tibalah saatnya untuk menebut obat, ketika sang apoteker ditanya tentang kandungan obat untuk setiap tulisan yang tertera diresep dokter, sang apoteker berkata, "maaf pak saya tidak berani menjelaskan lebih detil, karena saya takut keterangan saya berbeda dengan keterangan dokter, kalu bapak kurang puas kembali saja ke dokternya".
sebuah dunia yang penuh ketidakjelasan.
akhirnya kami pilih untuk tidak menebus resep tersebut, karena menurut buku yang menjadi pedoman tersebut untuk penyakit yang diakibatkan oleh serangan virus belum ada obatnya, apalagi dilawan dengan menggunakan antibiotik. bisa-bisa bukan bakteri patogen yang sayang mati tapi yang berguna bagi tubuhpun bisa dipukul habis oleh antibiotik tersebut. jadi cukup saja diberikan penurun panas dan menjaga asupan nutrisi balita.
se sampai dirumah, kondisi idrisi masih sama seperti kemarin, suhu tubuh masih naik turun. ruam merah masih tetap ada. hingga esok harinya, ahad, sudah mencapai 72 jam, lalu yossi sudah mulai panik dan memberikan efek psikologis kepada orang yang ada disekitarnya. hari ahad kami berencana untuk mencari second opinion, tapi hari ahad tak adalah satu orang dokterpun yang praktik. coba menuju rumah sakit ibu dan anak eria bunda, dan minta kepada resepsionisnya untuk menelpon DSA-nya idrisi, sang dokterpun menyarankan untuk datang ke rumahnya. kami pun berangkat menuju rumah sang dokter.
sebuah rumah yang cukup bagi penghasilan seorang dokter spesialis anak.
menunggu selama 15 menit sang dokterpun muncul. dia pun kembali mendiagnosa idrisi. wah ini campak. bukan alergi.
lah kok bisa berubah diagnosa dalam waktu sehari?
kalo di periksa lagi mungkin bisa berubah lagi kah?
kami mencoba menanyakan tentang pemberian antibiotik dan dampaknya terhadap balita. pendapat sang dokter:
secara teori yang dinyatakan tadi adalah benar tapi secara klinik itu tidak berlaku, karena penyakit yang menyerang tidak hanya satu saja tapi juga ada penyerang lainnya, apalagi di indonesia, dimana daya tahan tubuh lemah, kurang asupan gizi dan lain-lain. kemudian ditambahkan lagi, kalo ibuk tidak mau menggunakan antibiotik dan resep yang diberikan, terserah.
mendengar penjelasan seperti ini, merupakan sebuah argumen yang sangat lemah, pertama sang dokter plin-plan dengan diagnosanya sendiri (walaupun menurutnya obatnya masih sama), kemudian dia tak bisa mempertahankan pendapatnya bahwa kami harus memberikan antibiotik kepada idrisi. kedua jika memang demikian menurut dokter, mengapa tidak sekalian aja diberikan obat HIV, EBOLA, FLU BURUNG biar sekalian diantisipasi.
setelah pulang dari rumah sang dokter dengan penuh kebimbangan, akhirnya kami menebus juga puyer yang dituliskan pada resep ulangan yang diberikannya. sore kemarin suhu bandan idrisi sudah mulai menurun, alhamdulillah.......
hingga pagi tadi dia sudah bisa bermain, walau masih agak lemas.
sayang belum bisa membuktikan bahwa idrisi bisa sembuh tanpa harus meminum puyer dan antibiotik yang membuat anak-anak pusing untuk meminumnya.
adakah perlakuan dokter yang lebih rasional dalam pemberian obat untuk pasiennya?
dimanakah tanggung jawab moral seorang dokter jika pasien yang diberikannya obat belum sembuh-sembuh juga?
ataukah kita harus berpegang pada sebuah bait lagu
"Dokter juga manusia?